Selamat Datang, Slahkan Masuk di Blog Saya,...

Blog ini berisi artikel-artikel menarik baik artikel Islam maupun umum yang bertujuan menambah wawasan sahabat-sahabat semua,...yang kadang sering tak terduga di sekitar kita..

Senin, 26 Maret 2012

Cara Membenci yang Baik


Lho... Masa membenci bisa baik?? Bukankah membenci sifat buruk yang dilarang?
Untuk mengetahuinya, yuk kita teladani apa yang sudah diajarkan Allah dan RasulNya...
Bolehkah Membenci?
"Tali iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah." (HR. At-Tirmidzi)
"Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna imannya" (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Dari dalil-dalil di atas maka jelaslah, bahwa belum sempurna iman seorang muslim kalau dia hanya sanggup mencintai atau menyukai saja. Bahkan benci bukan hanya diperbolehkan, justru "kemampuan membenci" adalah suatu kewajiban bagi orang yang mengaku mengimani ajaran Islam.
Siapa Saja dan Sampai Kapan yang Boleh Kita Benci?
Pada dasarnya, kita berkewajiban membenci apa saja yang dibenci Allah, secara menerus dan penuh komitmen.
"Allah membenci tiga perkara yaitu mengumpat, berjudi dan membazirkan uang." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Masih banyak contoh lainnya, namun dari satu hadits saja dapat kita ambil kesimpulan:
1. Semua yang dibenci Allah dan RasulNya wajib kita benci juga.
2. Yang dibenci adalah sifat / perbuatan / perkataannya.
3. Tidak membenci orangnya secara pribadi. Karena yang boleh dan wajib kita benci hanya sifat/perbuatannya, maka wajib pula bagi kita memaafkan orang yang telah berlepas diri dari sifat tersebut.
"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. An-Nuur: 22)
Jadi saat ada orang yang kita benci berhenti melakukan keburukan itu, dan meminta maaf kepada kita, sebenarnya kitalah yang lebih membutuhkan maaf itu, karena dengan memaafkannya akan membuka pintu ampunan dari Allah. Sedangkan sudah tak terhitung lagi betapa banyak dosa yang telah kita lakukan.
4. Kebencian terhadap sifat tersebut bersifat permanen. Kita diwajibkan memaafkan orang yang berbuat salah, namun kita harus tetap membenci perbuatan yang salah itu. Allah dan rasulNya tidak pernah mengubah hal-hal yang wajib dicintai maupun dibenci dari sejak penciptaan alam semesta sampai hari Kiamat. Allah senantiasa mencintai ahli syukur, dan senantiasa membenci maksiat. Tidak ada "masa promo" di mana maksiat diperbolehkan. Dan kewajiban kita pula untuk tetap konsisten.
Introspeksi Diri
Dalam membenci, yang paling penting adalah kita harus menanyakan pada diri kita sendiri: apakah sifat-sifat yang dibenci itu ada dalam diri kita sendiri?
Bila masih ada, maka seharusnya kita senantiasa merasa malu apabila masih ada orang yang menyukai kita apalagi Allah masih mencurahkan banyak nikmatNya kepada kita, karena hakikatnya sifat-sifat yang kita miliki tadi termasuk yang wajib dibenci.
Maka dengan menyadari hal itu, selain mengingatkan orang lain dengan cara yang santun, kita wajib memperbaiki sifat-sifat buruk dalam diri kita karena:
"Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri" (QS Al-Ra'd 11

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar